Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments
Antisipasi Krisis - Bergantung Impor Membuat Permintaan Dollar Tinggi

Benahi Fundamental untuk Cegah Rupiah Melemah Berkepanjangan

Benahi Fundamental untuk Cegah Rupiah Melemah Berkepanjangan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
>>Suku bunga acuan BI perlu dinaikkan agar yield investasi tetap menarik bagi asing.

>>Fundamental ekonomi menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan investasi.

 

JAKARTA - Pemerintah diminta mencegah nilai tukar rupiah terus melemah berkepanjangan dengan membenahi faktor fundamental ekonomi Indonesia. Sebab, sudah lebih dari enam tahun mata uang RI tersebut terus melemah dan tidak pernah mendekati level terkuat setelah krisis 2008, yakni pada 2 Agustus 2011 di posisi 8.460 rupiah per dollar AS.

Sejumlah kalangan mengemukakan depresiasi rupiah yang berkepanjangan itu mengindikasikan ada masalah struktural perekonomian nasional yang belum tertangani dengan baik, bukan cuma karena faktor eksternal. Sementara itu, pada Rabu (14/3), di pasar spot, rupiah naik tipis 0,13 persen ke level 13.734 rupiah per dollar AS.

Kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga mencatat rupiah menguat 0,13 persen menjadi 13.739 rupiah per dollar AS. Dalam dua pekan Maret ini, mata uang RI terkikis 0,27 persen, sedangkan sepanjang tahun ini (1 Januari–1 Maret), rupiah terdepresiasi 1,5 persen. Dibandingkan dengan posisi terkuatnya pada 2 Agustus 2011, rupiah hingga kini terpangkas 38,4 persen.

Peneliti Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan pemerintah semestinya tidak selalu menuding faktor eksternal yang bersifat jangka pendek karena pelemahan rupiah sudah berlangsung lama, lebih dari enam tahun. “Makanya perlu ditelaah pula kemungkinan adanya masalah struktural ekonomi kita yang membuat rupiah cenderung melemah berkepanjangan,” ungkap Bhima, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pemerintah mesti segera mengantisipasi agar terhindar dari krisis akibat terus melemahnya rupiah tersebut. Solusi pertama, cadangan devisa diperkuat melalui peningkatan ekspor nonmigas dan sektor pariwisata, bukan hanya mengandalkan standby loan. Bhima merujuk pada krisis keuangan 1998.

Saat itu, cadangan devisa Indonesia yang jumlahnya relatif kecil terkuras untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. “Akhirnya nggak kuat menahan gejolak tadi.” Solusi kedua, imbuh Bhima, BI perlu menaikkan suku bunga acuan sampai 50 basis poin untuk menaikkan return atau imbal hasil instrumen investasi yang ada di Indonesia.

“Jadi, kalau asing melihat BI menaikan bunga acuan, mereka akan berpandangan yield surat utang di Indonesia tambah menarik, sehingga nggak jadi melepas investasinya,” jelas dia. Ketiga, memulihkan kepercayaan investor dengan cara memperkuat fundamental ekonomi. Sebab, fundamental ekonomi menjadi salah satu faktor yang menentukan keputusan investasi.

“Artinya, pertumbuhan ekonomi kita harus ditingkatkan lebih dari 5,1 persen. Kemudian, inflasi harus lebih rendah dari target dan terakhir industri diberikan insentif lebih besar. Karena kalau paket kebijakan ekonomi berjalan, sebenarnya secara otomatis modal bakal masuk ke Indonesia,” tukas Bhima.

 

Komunikasi BI

 

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, mengungkapkan masalah struktural ekonomi Indonesia yang sangat potensial memicu pelemahan rupiah selama ini adalah kebergantungan yang tinggi pada impor, seperti barang konsumsi dan pangan. “Kita itu serba-impor kan. Akibatnya, permintaan terhadap dollar sangat tinggi.

Dan, itu pasti karena impor untuk kegiatan pokok, seperti energi, pangan, dan bahan baku industri. Kalau itu tidak impor, konsekuensinya kegiatan ekonomi nggak bisa berjalan,” ujar dia, Rabu. Artinya, lanjut Enny, tekanan permintaan dollar tinggi. Makanya, sebagian orang berani spekulasi memborong dollar karena sudah pasti dibutuhkan di Indonesia.

“Itu logika sederhana yang disebut tekanan dalam negeri.” Oleh karena itu, dia mengingatkan agar BI juga mencermati adanya faktor kekhawatiran psikologis pasar. Bank sentral harus hati-hati untuk melakukan intervensi. “Tapi, kalau posisi rupiah sudah melampaui ekspektasi maka BI harus melakukan intervensi,” kata Enny.

Selain itu, imbuh dia, BI juga perlu menjalin komunikasi dengan pelaku pasar, terutama yang memiliki permintaan valuta asing (valas) besar, yakni BUMN yang kebutuhan impornya tinggi. “Kemudian, korporasi yang butuh dollar dalam jumlah besar. Tapi perusahaan besar biasanya self defense, melakukan hedging,” jelas dia.

Menurut Enny, komunikasi BI itu bertujuan agar intervensi tepat sasaran, tidak dicaplok oleh spekulan yang tidak hanya berasal dari dalam negeri. “Jadi, berapa pun intervensi, saya khawatir kalau BI nggak hati- hati hanya menggarami lautan. Makanya, mestinya BI berkomunikasi dengan yang demand-nya tinggi.” 

 

ahm/YK/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment