Koran Jakarta | April 20 2018
No Comments

Pembekalan Sejarah dan Budaya Betawi di Abnon Jakut 2018

Pembekalan Sejarah dan Budaya Betawi di Abnon Jakut 2018

Foto : KORAN JAKARTA/M YAZID
A   A   A   Pengaturan Font

Designer tenun dan Songket Anna Mari­ana tampil cekatan sebagai pembicara di tengah 15 pasang finalis Abang None (Abnon) Jakarta Utara 2018, baru-baru ini. di GOR Sunter, Jakarta Utara. Di kesempatan itu, finalis abang none di­berikan pembekalan tentang Sejarah dan Budaya Betawi, sekaligus pengenalan dan pengembangan budaya kain tenun dan songket Betawi.

Selaku Bendahara di Lembaga Kebudayaan Betawi, Anna meli­hat pemberian materi tentang sejarah yang terhubung dengan kebudaya­an Betawi di hadap­an finalis Abnon ini menjadi sangat penting. "Gene­rasi milenial harus paham sejarah, bahkan bisa dimulai dari pembe­rian nama kota ini, kenapa bernama Jakarta. Sebelum ini Jakarta pernah berganti nama beberapa kali. Dari Sunda Kelapa, berubah Jayakarta, berubah lagi jadi Batavia," kata Anna.

Dari segi budaya, Anna mengingatkan para finalis tentang pentingnya terus menjaga silaturahmi dan si­kap hormat kepada orang­tua yang menjadi ciri khas budaya Betawi yang kuat de­ngan nilai budaya Islami. Anna juga mengo­reksi cara bersalaman anak jaman kini kepada orang tua yang sekadar asal ada.

"Saya sering lihat, anak milenial kalau mau berang­kat ke luar rumah, salaman kepada Nyak dan Babe hanya sekadarnya. Salaman yang te­pat itu bukan menempelkan tangan ortu ke pipi atau ken­ing kita. Tapi harus dicium. Kena ke bibir dan dihidung!” kata Anna memberi contoh pada Reta, seorang finalis None. Di ujung pertemuan, Anna memberikan bebera­pa pertanyaan yang wajib dijawab para finalis pada sesi pertemuan berikut nanti de­ngan Anna.

"Ini semacam PR, jawab­nya nanti. Pertama, Apa tanggung jawab dan ko­mitmen finalis jika terpilih sebagai Abnon Jakut 2018. Kedua wajib membuat pan­tun yang menjadi ciri khas dalam kebudayaan Betawi. Ketiga, sejauh mana Abnon mengetahui tentang budaya nasional tenun dan songket betawi, dan siapa pencentus tenun dan songket Betawi," sebutnya.

Sebelumnya , 15 pasang finalis Abnon Jakarta Utara 2018 ini lolos setelah melalui serangkaian tahapan penyar­ingan dari 350 peserta yang mendaftar, dan ikut seleksi tahap awal. Mereka mema­suki masa karantina sejak 17 Maret – 21 April 2018. Para finalis ini hanya wajib ada di karantina di setiap akhir pekan. Pada hari kerja, mere­ka tetap berkativitas seperti biasa.

Selama proses karantina, para finalis Abnon diberi pembekalan berbagai materi dan keterampilan juga akan dibawa keliling mengunjungi 12 destinasi wisata Jakarta Utara, sebelum mengikuti penilaian pada malam Grand Final yang direncanakan April mendatang. "Dari 15 pasang ini, akan terpilih tiga juara, yang akan bertanding lagi ke tingkat pusat, mewa­kili Jakarta Utara," ungkap Riska finalis None Jakut 2017, yang tahun ini ikut menjadi panitia. yzd/S-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment