Koran Jakarta | August 20 2018
No Comments
Makanan Palsu - Anak-anak Terancam Menderita “Stunting”

Produk Makanan Berbahaya Banjiri Negara-negara di Afrika

Produk Makanan Berbahaya Banjiri Negara-negara di Afrika

Foto : ISTIMEWA
Ndidi Nwuneli, Pendiri Nigeria AACE Foods dan Sahel Capital
A   A   A   Pengaturan Font
Kisah tragis ini merupakan bagian dari kejahatan makanan di mana produsen makanan menyesatkan masyarakat tentang produk yang ia buat.

Nigeria - Akhir Febuari lalu, dua orang gadis berusia 14 tahun, Nashima dan Yayaya, meninggal setelah memakan sebuah biskuit pada hari ulang tahun teman sekelasnya di sekolah yang berlokasi dekat Ibu Kota Nigeria, Abuja. Beberapa anak lainnya yang ikut mengonsumsi biskuit yang sama juga harus dirawat di rumah sakit.

Panik dan mendapat ancaman dari para orang tua yang marah membuat pihak sekolah untuk sementara menonaktifkan kegiatan pembelajaran. Namun, tidak ada usaha untuk menginvestigasi permasalahan ini guna mencari tahu apa penyebab dari kejadian tersebut. Kisah tragis ini merupakan bagian dari kejahatan makanan di mana produsen makanan menyesatkan masyarakat tentang produk yang ia buat.

Menurut Asosiasi Produsen Makanan Amerika Serikat, makanan palsu seperti ini berdampak 10 persen dari penjualan produk makanan dan menghabiskan dana industri makanan dunia sekitar 10 miliar dollar AS sampai 15 miliar dollar AS setiap tahunnya.

Hasil data yang berfokus pada Benua Afrika yang dilakukan oleh Konfederasi Industri Tanzania memperkirakan ada sekitar lebih dari 50 persen semua barang, termasuk makanan, obat-obatan, dan material konstruksi yang diimpor untuk Tanzania adalah barang palsu. Dan tarif untuk produk-produk ini sekitar 10 sampai 50 persen, tergantung dari jenis kategori makanan tersebut dan negara pengirimnya.

 

Sebuah Krisis

 

Sebagai salah satu pendiri Nigeria AACE Foods dan Sahel Capital, Ndidi Nwuneli, melihat bahwa gelombang makanan seperti ini sebagai suatu krisis pada makanan dan banyak supermarket-supermarket yang menyediakan produk tiruan. “Di Nigeria, ada susu bubuk yang tidak mengandung protein hewan.

Di Kenya, ada minyak sayur yang merupakan hasil dari minyak daur ulang yang tidak bagus untuk konsumsi manusia,” tutur Ndidi. Di Ghana, minyak kelapa sawit dicampur dengan pewarna makanan yang bernama Sudan IV yang dikenal sebagai karsinogen, senyawa yang dapat memicu kanker.

Sementara itu di Uganda, formalin yang berguna untuk mengawetkan mayat dimanfaatkan sebagai bahan untuk mengawetkan daging dan ikan agar bebas dari lalat dan terlihat segar berhari-hari. Selain dari Afrika, ada pula kejadian seperti beras plastik yang dibungkus sebagai beras mahal.

Memberikan produk-produk tiruan tersebut dan dikonsumsi setiap hari sama saja seperti membantu negara tersebut untuk meningkatkan angka malnutrisi dan penderita kanker. Sementara itu, banyak orang tua juga yang membelikan anaknya susu, namun tidak mengetahui kandungan yang terdapat di dalam susu tersebut.

Ini dapat membuat anak menjadi stunting. Tinggi kondisi di mana seorang anak memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan kenaikan makanan tiruan seperti ini di Afrika. Pertama, meningkatnya kompleksitas dari sistem makanan tersebut sehingga sangat sulit untuk dilacak asal mulanya.

Kedua, produsen lokal harus menghadapi kompetitior yang sangat kuat terutama impor dari luar yang terkadang menurunkan standar di Afrika sehingga mengurangi beberapa kadar dalam bahan-bahannya sehingga menjadi jauh lebih murah. 

 

qz.com/gma/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment