Koran Jakarta | June 20 2018
No Comments
Kebijakan BI - Perry Terapkan Strategi Pro-Stabilitas dan Pro-Pertumbuhan

Publik Berharap Gubernur BI Bisa Stabilkan Rupiah

Publik Berharap Gubernur BI Bisa Stabilkan Rupiah

Foto : ANTARA/Sigid Kurniawan
Gubernur BI Baru - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo (kiri) mendapat ucapan selamat dari mantan Gubernur BI Agus Martowardojo usai pelantikan di Mahkamah Agung, Jakarta, Kamis (24/5). Perry Warjiyo resmi menjabat Gubernur Bank Indonesia periode 2018-2023 menggantikan Agus Martowardojo yang telah selesai masa tugasnya.
A   A   A   Pengaturan Font

>>Bank sentral diminta segera menaikkan bunga acuan lagi.

>>PR terbesar Gubernur BI yang baru adalah menunjukkan kredibilitas.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengharapkan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru dilantik, Perry Warjiyo, segera memprioritaskan kebijakan yang mampu menstabilkan kurs rupiah di tengah gejolak ekonomi global.

Sepanjang tahun ini, mata uang RI itu sudah terdepresiasi sekitar 4,62 persen. Untuk itu, Perry diminta mampu memperbaiki timing dan besaran kenaikan bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate, dalam meredam tekanan depresiasi rupiah.

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, mengemukakan ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan Perry, terutama segera melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Respons BI sebelumnya yang dinilai pasar terlambat menyesuaikan bunga acuan harus disikapi oleh Gubernur BI yang baru.

“Sebagai langkah strategis BI bisa konsisten menerapkan intervensi cadangan devisa. Dan, jika rupiah melemah hingga Juni serta ruang kenaikan bunga acuan masih memungkinkan, BI bisa menaikkan bunga 25 bps (basis poin) lagi,” kata dia, di Jakarta, Kamis (24/5). Hal senada dikemukakan Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo.

Dia juga meminta Gubernur BI segera melakukan akselerasi untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Sebagai otoritas moneter, BI perlu memantapkan strategi kebijakan moneter serta mengatur, menjaga sistem pembayaran, dan menjaga sistem keuangan.

Perry Warjiyo, kemarin, dilantik sebagai Gubernur BI periode 2018–2023, menggantikan Agus Martowardojo yang telah mengakhiri masa jabatannya pada 23 Mei 2018.

“Sebagai mantan Deputi Gubernur BI, Perry telah melalui kejadian krisis 1997, 1998, dan 2005, dan berbagai tahun gejolak ekonomi dunia lainnya. Saya yakin Gubernur BI yang baru sudah sangat paham bagaimana mengatasi hal tersebut,” ujar Bambang.

Ekonom Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Aloysius Gunadi Brata, menambahkan PR terbesar pimpinan BI yang baru adalah menunjukkan kredibilitas. Sebab, kebijakan moneter sangat bergantung kepada kredibilitas sosok puncak institusi moneter.

“Ini situasinya agak genting. Kalau rupiah terus melemah, pembayaran cicilan utang bengkak, padahal capital outflow terus mengancam.

Jadi naikkan suku bunga, ini langkah tercepat dan paling kredibel untuk pimpinan baru BI,” papar dia. Pada perdagangan di pasar spot, Kamis, kurs rupiah ditutup menguat 76 poin (0,53 persen) dibandingan penutupan hari sebelumnya menjadi 14.133 rupiah per dollar AS.

Terkait dengan pengawasan devisa ekspor yang masih banyak diparkir di perbankan luar negeri, Bhima menyarankan agar BI bersama pemerintah membuat aturan agar hasil ekspor itu bisa lebih lama ditahan di perbankan dalam negeri. Tujuannya, untuk memperkuat cadangan devisa nasional.

“Cara ini efektif untuk meredam pelemahan nilai tukar di Thailand,” kata dia. Gunadi menambahkan soal parkir devisa ekspor mesti menjadi pemikiran mendalam dari kepemimpinan BI yang baru.

“Dalam jangka panjang perlu ada solusi mengatasi defisit transaksi berjalan salah satunya melalui devisa ekpsor ini,” jelas dia.

Prioritas BI

Seusai dilantik di Mahkamah Agung, kemarin, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan stabilisasi kurs rupiah menjadi prioritas dalam jangka pendek.

BI akan memprioritaskan kebijakan moneter, dengan mengombinasikan antara kebijakan suku bunga dan intervensi ganda.

“Kemarin (suku bunga) sudah naik 25 bps. Kami juga akan merencanakan untuk lebih pre-emptive, lebih front loading, dan lebih ahead the curve dalam merespons kebijakan suku bunga,” kata Perry.

Sedangkan intervensi ganda dilakukan dengan menyuplai pasar valas dan membeli surat berharga negara (SBN) dari pasar sekunder yang dijual asing. Dia juga menegaskan akan terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan tidak melupakan stabilitas.

“Secara khusus stabilitas ini dengan jaga inflasi dan nilai tukar (lewat kebijakan moneter). Untuk jaga itu, saya akan tetap untuk dukung upaya petumbuhan.

Saya adalah prostability dan pro-growth,” imbuh Perry. Setidaknya ada tujuh strategi yang akan digunakan BI. Dua kebijakan untuk menjaga stabilitas, dan lima kebijakan lainnya untuk mendukung pertumbuhan. ahm/YK/SB/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment